Mesin Waktu di Omah Kendeng

pagi itu indah sekali, cahaya mentari menerobos celah-celah dinding dari kayu rumah ini, seolah menjadi pengingat dan menyapa lembut mereka yang masih tergeletak di alam mimpi, tetapi diriku sudah terjaga dan bersiap membasuh kulit yang lengket keringat karena memang seharian kemarin tidak memandikan diri, agak heran diriku melihat kamar mandi, tidak ada bak, yang hanya ada beberapa ember dan corong air yang mana air itu mengalir dengan sendirinya, entah dari mana asal air itu yang pasti sangatlah segar saat bertemu dengan kulit.

Pagi itu tanggal 1 juni, merupakan salah satu hari yang akan ku ingat, tempat kami bermalam ini bernama omah kendeng, rumah ini mendeklarasikan dirinya sebagai rumah perjuangan, sungguh keren bukan. Terletak Kec. Sukolilo, Pati. Dan berada di wilayah pegunungan kendeng. Mungkin bila mendengar kendeng, ku pastikan pikiran kalian pasti konflik pabrik semen, atau samin vs semen. Tapi itu tidak akan daku bahas di tulisan ini. Mungkin di part yang lain hehehe, oke mari ku lanjutkan, singkat cerita hari sudah siang, matahari sudah terlihat tergelincir di atas kepala. Dan yang ku nantikan tiba, rumah ini akan menjadi sekolah, sekolah untuk siapa?. Sebelum mengenal para murid akan ku kenalkan pada gurunya terlebih dulu, ada 2 yang ku tahu. Yang pertama aku sangat mengenalnya, namanya bude endang. Seorang pegawai negeri sipil, dari Purwodadi. Kami baru bertemu pada akhir tahun lalu saat sama-sama belajar budaya di candi sukuh, tetapi sudah sangat dekat seperti kerabat sendiri. Beliau adalah seorang pesinden yang hebat, suaranya halus dan mak nyuss hehehe. Yang kedua adalah Yu gunarti, beliau lah yang mengajarkan masalah tata hidup sedulur sikep dan ajaran samin. Ya memang sekolah ini adalah tempat belajar para anak-anak sedukur sikep yang memang tidak bersekolah formal. Walaupun tidak bersekolah formal tetapi mereka mendapat pendidikan yang mungkin sudah hilang di pendidikan formal yang memang serba formal, you know lah formal itu serba pencitraan. Apa itu? , nanti akan terjawab degan sendirinya.

“tepangaken,(sambil mencium tangan) aran kulo danang”, anak kecil berbaju hitam, menggunkan iket kepala dari batik, saat pertama kali melihatnya pikiranku langsung teringat wajah teman ku sekelas topex, karena memang mereka sangat mirip wkwkw, Setelah itu mulai berdatangan anak-anak, mereka kompak menggunakan pakain bernada gelap, dengan perempuan memakai kain jarik sebagai bawahan mereka, semua anak mengampiri ku dan melakukan hal yang sama memperkenalkan diri mereka, hmmm san

gat sopan sekali batin ku dalam hati. Saat itu pukul 2, kelas di mulai dengan membagi kelompok dan siap untuk bermain terlebih dulu, terdengar mengasyikan bukan. Dan saat itu lah aku merasa kembali ke masa kecil ku, karena permainan-permainan yang mereka mainkan bersama adalah permainan-permainan tradisional yang memang sudah punah di sekitar ku, apakah kalian pernah mendengar permainan “dingklik oglak aglik?” bila ya pasti lah masa kecil kalian terselamatkan, dingklik oglak aglik artinya kursi yang goyang goyang, permainan yang mengajarkan kekompakan dan kerjasama kelompok, karena 4 orang harus mempertahankan posisi kaki saling bersilang, sambil bernyanyi, nyanyian dingklik oglak aglik, tapi diriku sudah lupa liriknya. Juga ada permainan buntu lawe, permainan yang merebutkan anak, ingat kan? Hehe, cublak cublak suweng, setibanya, dan pompongan nama-nama permainan yang tentunya asing sekarang. Tetapi tidak semua permainan tradisional di mainkan, mereka tidak boleh memainan permainan yang mengandung unsur tipu muslihat, seperti lempar karet gelang, dan permainan-permainan bersifat judi lainya. Aku mulai dekat dengan anak-anak, dan bermain bersama-sama. Mereka adalah Riki, Setya, Dani, Sekti, Sholeh, Riki, Dan Reginan. Setelah bermain kita mulai belajar, kita masuk omah kendeng, dan bersiap untuk menabuh gamelan. Yang ku ingat danang menabuh gong, dan mereka yang tidak memukul alat, nembang bersama, lagu demi lagu kami lantunkan, dimulai gambang suling ,turi putih, Dan tak terasa sorepun sudah menjemput. Menandakan kelas harus berakhir, mereka berpamitan dengan sangat sopan seperti saat datang, menggunakan bahasa jawa kromo dan sangat mengedepankan sopan santun, bahkan saat hendak lewat, mereka sedikit menunduk dan memberi sapaan, sama seperti yang di ajarkan nenek ku dulu saat kecil.

Luar biasa memang rumah ini, benar-benar rumah perjuangan. Dan diriku sedikit menyimpul-nyimpukan liar tentang apa yang ada di kepala ku, tentang pendidikan di negeri ini. Bukanya tujuan utama seseorang berpendidikan adalah untuk beradab. Tapi realita sekarang, di jalan-jalan bahkan anak SMP merokok dan membolos sekolah, mungkin jalan terbaik untuk Danang dan kawan kawan memang di omah kendeng ini. Karena memang mereaka tak cocok, untuk memformalkan diri kareana yang ku rasakan mereka lebih berpendidikan dari ku, yang hidup di iklim penuh pencitraan, yang mana pintar hanya di ukur dari segi akademis. Karena memang diriku tidak setuju seorang pintar hanya mereka yang memilki nilai akademis baik, menurutku setiap orang mempunyai kepintaran nya masing-masing, tetapi tidak mungkin kan seorang yang sangat mahir menggambar mendapat ranking satu dengan kepintaran menggambar, semua itu di ukur dari angka-angka formal yang mereka sebut nilai, hmmm sangat formal. Apapun itu kawan-kawan ku jadilah manusai yang beradab, dan berguna bagi nusa dan bangsa ya, hehehe.

Perkenalan

Hai, apa kabar kalian? Selamat datang di dunia seseorang yang biasa ini. Percayalah setiap orang punya bagian alur cerita hidupnya sendiri sendiri, dan cerita-cerita itu sangat asyik untuk diketahuai dan di rasakan 0leh manusia lainya. Ya, hal itu yang selama ini ku lakukan, menyimak setiap alur cerita orang-orang di sekitarku dan mengaguminya. Sungguh aku mengagumi betapa goresan kata-kata dapat menggambarkan seseorang. Dan aku memutuskam memulainya, memulai menggores kata-kata, menceritakan alur penggambaran diriku sendiri, tetapi mengapa, dan entah mengapa ada rasa malu, terasa sungguh aneh menceritakan apa yang ku alami, aneh memang, tetapi itulah yang kurasakan (.
Mari ku kenalkan dengan diriku sendiri, namaku fauzan , fauzan adalah nama universalku, tapi kadang para society memanggilku munib, unib, dul, ken, dan ojan. Yah terserah kalian, hal terpenting aku mengetahui kalian membicarkan atau memanggil ku, karena bila aku tak mengetehauinya, pastilah hal jelek yang kalian bicarakan, gosip mungkin hehehe. Mari tinggalkan masalah nama, aku lahir di kota kecil pemisah Yogja dan Solo, orang-orang biasa mengenalnya Klaten, 20 tahun lalu aku dilahirkan dari sepasang manusia luar biasa, yang pasti akan kuceritakan suatu saat. Dan aku bersyukur lahir dan hidup bersama mereka. Percayalah walaupun sekarang diriku memasuki usia kepala 2, tetapi kenyataan memaksaku untuk lebih dewasa dari usia yg tertulis hitam di atas putih itu, perjalanan hidup ku samapi sekarang tak semulus jalan tol, yaa jikalau di gambarkan dengan jalan bentuknya mungkin kelokan-kelokan, berliku, menanjak, menurun, dan sampai sekarang masih berlanjut dan entah kapan sampai tujuan, karena hanya tuhan yang tahu akhir jalan itu. Terdapat sebuah peribahasa, hidup itu seperti roda, suatu saat kita berada di atas dan suatu saat kita dibawah. Begitulah bunyinya, tapi apakah kalian pernah membayangkan proses dari perpindahan posisi tersebut, mungkin bila dari bawah ke atas sudah biasa lah, tetapi bila dari semula di atas kemudian terjun ke bawah?, percayalah kesedihan paling mengerikan di dunia ini adalah kehilangan, entah kehilangan apa saja. Dan proses itu lah yang ku alami, proses kehilangan, memang hanya materi, tetapi saat itu umurku baru menginjak puluhan tahun, sempat ku menolak kenyataan, kenapa aku menjadi tidak punya apa-apa dan takut menjadi apa yang di namakan miskin. Tetapi aku bersyukur hidup di tengah orang-orang baik, sungguh aku sangat belajar amat banyak pelajaran hidup, proses lah yang menuntutku harus dewasa dan proses tak bisa di pisahkan oleh waktu, sangat sulit memang hal itu, bahkan aku baru menyadari kesalahan ku beberapa tahun terakhir, selama ini diriku hanya memikirkan diriku saja, sangat egois, mungkin aku terpengaruh hukum rimba, dimana yang kuat yang bisa bertahan, sehingga selama bertahun-tahun yang kulakukan hanya menjadi terbaik bagi diriku saja, karena mungkin aku malu dan tidak menerima kenyataan. Tetapi setiap hari aku semakin banyak bertemu orang, dan mengenalnya. aku banyak belajar dari mereka. Dan memang penyesalan datang di akhir, bahkan aku malu untuk sekedar mengingat bagaiamana aku saat itu, saat berfikir diriku adalah manusia paling tidak beruntung di dunia, dan bagai sebuah novel hidupku memulai babak baru, aku sudah berdamai dengan diriku, aku sudah mempunyai tujuan benar di hidupku, karena diriku tersadar tidak ada gunanya menyesali suatu hal, saat sebuah peristiwa terjadi, saat itu merupakan moment di mana kita harus menentukan sikap untuk memperbaikinya di kemudian hari,bukanya menyesalinya berlarut-larut karena itu hanya akan menimbulakan rasa haus dan kebencian, huh entah kalian mengerti atau tidak hehe, yang jelas aku menyesali diriku yang dulu dan aku berjanji pada kalian untuk membahagiakan 2 malaikat ku di rumah. Semoga dapat ku bahagikan mereka seperti mereka membahagiakan ku dulu. Dan entah mengapa aku sangat senang alur hidupku yang tidak rata ini. Terima kasih kalian yang mau membaca ini, jadilah teman ku, (. Tunggu goresan-goresan kata lain yang ku tulis. Semoga kalian diberikan kesehatan dan kebaikan.